Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Emoh Putus Berujung Gelap Mata Lukas Habisi Pacar di Gamping Sleman

Skintific

Banjar – Emoh Putus Berujung Suasana tenang di sebuah kawasan perumahan di Gamping, Sleman, mendadak mencekam pada Jumat malam (8/11). Seorang pemuda bernama Lukas Nanda Pratama (24) tega menghabisi nyawa kekasihnya sendiri, Sinta Marlina (22), setelah terjadi pertengkaran hebat di rumah kontrakan korban. Tragedi berdarah itu diduga berawal dari keinginan korban untuk mengakhiri hubungan asmara mereka, sementara pelaku menolak dan tak bisa menerima keputusan tersebut.

Peristiwa memilukan ini sontak menggemparkan warga sekitar. Polisi yang datang ke lokasi menemukan korban dalam kondisi tak bernyawa di ruang tamu, dengan luka tusuk di bagian dada dan leher. Pelaku berhasil diamankan tak lama kemudian di wilayah Moyudan, setelah sempat kabur menggunakan sepeda motor milik korban.

Skintific

Awal Mula Pertengkaran

Emoh Putus Berujung
Emoh Putus Berujung

Baca Juga : PGRI Kota Banjar Sesalkan Tunjangan Guru PAI Telat 3 Bulan, Semoga Tak Terulang

Dari hasil penyelidikan sementara hubungan Lukas dan Sinta sudah berjalan hampir tiga tahun. Namun, belakangan hubungan mereka sering diwarnai pertengkaran. Beberapa teman dekat korban menyebut, Sinta sempat berniat mengakhiri hubungan karena pelaku kerap bersikap posesif dan mudah marah.

Menurut Kapolresta Sleman, Kombes Pol Rully Harianto, peristiwa itu bermula saat pelaku mendatangi rumah kontrakan korban sekitar pukul 20.30 WIB. Sinta yang sedang bersiap keluar menolak ajakan Lukas untuk bertemu, sehingga memicu adu mulut di depan rumah.

“Dari keterangan saksi, pelaku datang dalam keadaan emosi. Ia memaksa korban untuk tidak mengakhiri hubungan, namun korban tetap bersikeras ingin putus. Pertengkaran pun memuncak,” ujar Kombes Rully dalam konferensi pers di Mapolresta Sleman, Sabtu (9/11).

Dalam kondisi tersulut emosi, Lukas disebut membawa pisau dapur dari dalam kontrakan dan langsung menyerang korban. Sinta sempat berteriak meminta tolong, namun luka parah di bagian dada membuatnya tak sempat diselamatkan.

Pelaku Ditangkap Setelah Kabur

Setelah melakukan aksinya, Lukas langsung melarikan diri menggunakan motor korban menuju arah Moyudan. Polisi yang menerima laporan warga segera melakukan pengejaran dan berhasil menangkap pelaku kurang dari tiga jam setelah kejadian.

“Pelaku kami tangkap di rumah temannya di Moyudan. Saat diamankan, pelaku masih mengenakan pakaian yang sama dengan bercak darah di tangannya,” jelas Kasatreskrim Polresta Sleman, AKP Yudi Hartono.

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa pisau dapur sepanjang 20 cm, pakaian berlumuran darah, dan telepon genggam korban. Pelaku kini ditahan di Mapolresta Sleman untuk menjalani pemeriksaan intensif.

Motif Utama: Tak Terima Diputus

Dalam pemeriksaan awal, Lukas mengaku menyesal dan mengklaim perbuatannya terjadi karena tidak bisa menahan emosi setelah korban menyatakan ingin mengakhiri hubungan.

“Saya tidak siap kehilangan dia. Saya sudah berusaha minta maaf, tapi dia tetap mau putus,” ujar Lukas dengan nada penyesalan saat dihadirkan dalam konferensi pers.

Polisi menyebut pelaku akan dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan atau Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Warga dan Tetangga Tak Menyangka

Warga sekitar lokasi kejadian mengaku terkejut dengan peristiwa itu. Pasalnya, Lukas dan Sinta dikenal sebagai pasangan yang jarang membuat keributan di lingkungan sekitar.

“Mereka kelihatannya baik-baik saja. Kadang datang berdua ke warung, kelihatan mesra. Nggak nyangka bisa sampai seperti ini,” ujar Ibu Rina (45), salah satu tetangga korban.

Sementara itu, keluarga korban di Kabupaten Kulon Progo masih terpukul dengan kejadian ini. Jenazah Sinta telah dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan pada Sabtu siang. Ibunda korban, Sri Wahyuni, tak kuasa menahan tangis saat menerima kedatangan jenazah anak perempuannya.

“Anak saya itu baik, nggak pernah aneh-aneh. Dia cuma ingin hidup tenang, tapi malah jadi korban,” ujarnya dengan suara lirih.

Potret Gelap Kekerasan dalam Pacaran

Kasus tragis ini menambah panjang daftar kekerasan dalam hubungan asmara (dating violence) yang terjadi di Indonesia. Psikolog sosial dari Universitas Negeri Yogyakarta, Dr. Dewi Pramesti, menilai bahwa kasus seperti ini sering muncul karena lemahnya kontrol emosi dan pola hubungan yang tidak sehat.

“Rasa memiliki yang berlebihan seringkali berubah menjadi obsesi. Ketika salah satu pihak ingin berpisah, yang lain merasa kehilangan kontrol dan akhirnya nekat melakukan tindakan ekstrem,” jelasnya.

Menurut Dewi, penting bagi masyarakat dan keluarga untuk lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan beracun, seperti cemburu berlebihan, pengawasan berlebih, dan ancaman emosional.

“Pendidikan tentang hubungan sehat perlu diberikan sejak dini, agar generasi muda bisa mengenali batas antara cinta dan pengendalian,” tambahnya.

Respons Pemerintah Daerah dan Polisi

Menanggapi kejadian ini, Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban dan mengimbau masyarakat agar tidak menormalisasi kekerasan dalam hubungan pribadi.

“Cinta tidak boleh menjadi alasan untuk melukai. Pemerintah daerah akan memperkuat program penyuluhan dan pendampingan bagi remaja dan pasangan muda di Sleman,” kata Kustini dalam pernyataannya.

Polisi juga mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda kekerasan dalam hubungan.

“Kami mendorong masyarakat agar berani melapor lebih awal, sebelum terjadi hal fatal,” ujar AKP Yudi.

Penutup

Tragedi di Gamping ini menjadi pelajaran pahit bahwa cinta tanpa kendali dan emosi tanpa logika bisa berujung pada petaka. Luka yang ditinggalkan tak hanya bagi korban dan pelaku, tetapi juga bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat sekitar.

Kasus Lukas dan Sinta menjadi pengingat bahwa cinta sejati seharusnya menghadirkan rasa aman, bukan ketakutan. Dan ketika hubungan sudah tidak sehat, melepaskan dengan ikhlas jauh lebih bijak daripada memaksa dengan amarah.

Skintific