Banjar – Negara dengan Hulu Perlombaan senjata nuklir dunia memasuki babak baru setelah laporan terbaru menyebutkan bahwa China kini memiliki jumlah hulu ledak nuklir aktif yang lebih banyak daripada Rusia.
Namun, laporan tahunan dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) mengungkapkan fakta mengejutkan: China melampaui Rusia dalam jumlah hulu ledak nuklir yang siap digunakan.
Namun dalam lima tahun terakhir, Beijing melakukan ekspansi besar-besaran dalam produksi, pengembangan, dan penempatan sistem persenjataan nuklir.
SIPRI mencatat bahwa pada pertengahan 2025, China memiliki sekitar 500 hulu ledak aktif, sementara Rusia turun menjadi sekitar 485.
Baca Juga : Satgas Damai Cartenz tangkap penembak anggota Polri di Puncak Jaya
Amerika Serikat masih memimpin dengan sekitar 1.770 hulu ledak aktif, namun posisi China sebagai runner-up baru memberi sinyal bahaya bagi keseimbangan strategis global.
Peningkatan jumlah ini tidak hanya mencerminkan kebangkitan militer China, tetapi juga perubahan strategis dalam doktrin keamanan nasional mereka.
Selama ini, China memegang prinsip “minimum deterrence” — memiliki cukup senjata nuklir untuk pembalasan, bukan dominasi.
Namun kini, pendekatan itu berubah menjadi “credible second-strike capability,” dan bahkan mendekati postur ofensif.
Analis militer internasional melihat bahwa China telah membangun ratusan silo rudal baru di wilayah barat laut mereka, sebagai tanda kesiapan ni
menghadapi konflik berkepanjan
Sementara Rusia mengalami penurunan hulu ledak aktif, sebagian besar karena tekanan ekonomi dan prioritas pada perang
Sumber internal menyebut bahwa Rusia lebih memfokuskan anggaran pada persenjataan konvensional dan sistem pertahanan udara.
Pergeseran posisi ini menimbulkan istilah baru di kalangan analis geopolitik: “China mengkudeta Rusia” dalam lanskap kekuatan nuklir.
Tentu istilah “kudeta” di sini bersifat simbolik — menggambarkan bagaimana posisi kedua negara berubah secara drastis dan mengejutkan
Hal ini memperkuat posisi China sebagai kekuatan militer sejati yang kini tidak hanya menyaingi Amerika Serikat, tetapi juga menggeser sekutunya send
Dampaknya sangat terasa dalam dinamika geopolitik global, termasuk hubungan trilateral antara China, Rusia, dan Amerika Serikat.



