Koran Banjar – Buah Manis 35 Tahun penantian, akhirnya gereja yang telah lama dinanti oleh ribuan jemaat ini resmi diresmikan pada Sabtu (13/12), hanya beberapa hari menjelang perayaan Natal 2025. Peresmian gereja yang menjadi simbol perjuangan dan kebersamaan umat ini disaksikan oleh ribuan jemaat, tokoh agama, serta pejabat daerah setempat. Sebuah perjalanan panjang yang penuh tantangan, tetapi akhirnya terbayar dengan terwujudnya sebuah rumah ibadah yang kokoh dan penuh makna.
Sejarah Perjalanan Pembangunan HKBP Pondok Kelapa
Pembangunan gereja HKBP Pondok Kelapa dimulai pada tahun 1990-an, ketika jemaat yang sebelumnya hanya memiliki tempat ibadah sementara, merasa kebutuhan akan sebuah gedung gereja yang lebih layak semakin mendesak. Pada saat itu, jemaat HKBP Pondok Kelapa yang mayoritas berasal dari kalangan pekerja dan keluarga migran Batak yang tinggal di sekitar Pondok Kelapa, Jakarta Timur, merasa sangat membutuhkan fasilitas ibadah yang lebih representatif.
Namun, perjalanan untuk membangun gereja ini tidaklah mudah. Kendala utama yang dihadapi adalah terbatasnya dana, serta birokrasi yang berbelit. Berbagai upaya penggalangan dana dilakukan oleh jemaat, mulai dari bazar, konser amal, hingga kegiatan sosial lainnya. Meskipun demikian, proses pembangunan gereja baru HKBP Pondok Kelapa berjalan sangat lambat, mengingat dana yang terkumpul tidak mencukupi untuk mempercepat pembangunan.
“Selama bertahun-tahun, kami hanya bisa beribadah di ruang yang terbatas, bahkan sering kali harus berpindah-pindah tempat. Namun, kami tetap sabar dan terus berdoa. Hari ini, setelah 35 tahun, kami bisa melihat hasilnya,” ujar Pdt. Simarmata, seorang pendeta senior di gereja HKBP Pondok Kelapa, dengan mata berkaca-kaca.
Buah Manis 35 Tahun Peresmian Gereja, Simbol Kemenangan dan Kebersamaan

Baca Juga : SEA Games 2025 Ivar Jenner Minta Maaf dan akan Tanggung Jawab
Pada Sabtu (13/12), acara peresmian gereja dihadiri oleh ratusan jemaat yang sangat antusias. Tidak hanya warga sekitar, acara ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh agama, pejabat pemerintah, dan bahkan beberapa perwakilan dari organisasi gereja se-Indonesia. Peresmian gereja HKBP Pondok Kelapa ini berlangsung khidmat, dengan rangkaian acara doa syukur dan pemberkatan yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Jamil Lumban Tobing, Ketua Sinode HKBP.
Dalam sambutannya, Pdt. Dr. Jamil Lumban Tobing menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan atas pencapaian ini. Ia juga menekankan pentingnya gereja sebagai pusat spiritualitas dan kebersamaan bagi umat. “Ini bukan hanya sekedar bangunan fisik, tetapi simbol dari ketekunan, doa, dan kebersamaan jemaat yang tidak pernah putus harapan. Ini adalah hadiah Natal terbaik yang bisa kita terima,” ujar Pdt. Lumban Tobing di hadapan jemaat yang hadir.
Jemaat yang hadir pun merasa sangat bersyukur dan terharu. Salah satunya, Boru Hutapea, seorang jemaat setia yang telah 30 tahun beribadah di HKBP Pondok Kelapa. “Ini adalah momen yang sangat emosional bagi kami semua. Kami sudah menunggu sangat lama untuk bisa memiliki gereja yang layak. Kini, kami tidak hanya bisa beribadah dengan nyaman, tetapi juga semakin kuat dalam iman,” kata Boru Hutapea dengan wajah penuh kebahagiaan.
Buah Manis 35 Tahun Gereja yang Mewakili Semangat Persatuan
Gereja HKBP Pondok Kelapa memiliki desain yang modern namun tetap mengusung kearifan lokal Batak yang khas. Dengan kapasitas lebih dari 1.000 jemaat, gereja ini dirancang untuk dapat menampung semua anggota jemaat, baik yang datang dari dalam maupun luar kota. Selain itu, gereja ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang memadai, seperti ruang kelas untuk sekolah Minggu, ruang serbaguna, serta area parkir yang luas.
Keindahan arsitektur gereja ini menggabungkan unsur budaya Batak, seperti ukiran khas Batak di bagian luar gereja, serta elemen-elemen alam yang memberi nuansa kedamaian. Pembangunan gereja ini juga melibatkan banyak warga sekitar yang turut berkontribusi dalam proses pengerjaannya, baik secara finansial maupun tenaga. Hal ini menjadi bukti nyata dari semangat gotong-royong yang kuat di kalangan jemaat.
“Melalui gereja ini, kami ingin menunjukkan bahwa bukan hanya sebuah bangunan, tetapi tempat ini adalah rumah bagi setiap orang yang ingin merasakan kasih Tuhan dan saling menguatkan dalam iman,” ujar Pdt. Simarmata.






