Banjar – Anak Berkebutuhan khusus asal Kota Banjar mengikuti kejuaraan tenis meja nasional yang digelar oleh NPCI DKI Jakarta bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa

Baca Juga : Lapas Banjar Gencarkan Pelatihan Kemandirian Warga Binaan
Ketiganya menunjukkan keberagaman kemampuan dan semangat juang tinggi
Raffi Ahmad hadir sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, memuji kreativitas dan keberanian anak-anak tersebut
Provinsi dengan medali terbanyak di kategori umum dan disabilitas akan memperebutkan Piala NPCI DKI Jakarta, menambah motivasi ekstra bagi peserta
Pameran karya seni oleh siswa ini tidak hanya sekadar pameran, tetapi juga momentum untuk memperlihatkan bahwa potensi ABK tidak berhenti pada satu bidang saja—mereka juga kreatif dan inovatif.
Kegiatan ini meningkatkan kepercayaan diri anak-anak ABK, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik atau sensorik bukan hambatan untuk bersaing secara setara.
Bagi Kota Banjar, prestasi ini menjadi kado kebanggaan tersendiri—menunjukkan bahwa daerah tertinggal dalam akses pun bisa berkontribusi di ranah nasional.
Kepala Seksi TP Umum Kejari Kota Banjar, Alif Darmawan Maruszama, menyampaikan harapan agar lebih banyak pihak—pemerintah, masyarakat, media—memberikan apresiasi dan dukungan kepada ABK secara menyeluruh
Event ini juga menjadi pengingat bahwa masih banyak potensi ABK di berbagai daerah yang belum tergali karena minimnya akses pelatihan dan eksposur.
Ajang semacam ini bisa menjadi momentum untuk memperluas program inklusif serupa di kota-kota lain, sehingga talenta muncul dari banyak wilayah.
Selain manfaat kompetisi, kesempatan bertemu tokoh-tokoh publik dan pejabat menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak, membuka wawasan bahwa kontribusi mereka
Dari segi internal, pengalaman ini pasti menumbuhkan semangat persahabatan, sportivitas, dan rasa bangga antar peserta, baik ABK maupun non-ABK.
Di mata masyarakat umum, acara ini menjadi bahan edukasi hidup bahwa olahraga adalah ruang partisipasi semua orang—tanpa kecuali.
Momentum ini bisa mendorong diskusi lebih luas tentang aksesibilitas sarana olahraga di daerah seperti Banjar, misalnya fasilitas ramah disabilitas di sekolah olahraga.






