Banjar – Sesal Tiada Guna Dr. Priguna dulu dikenal sebagai salah satu dokter yang cukup disegani di kalangan medis. Pendidikan tinggi, pengalaman panjang, hingga senyum ramahnya saat menyambut pasien, membuat ia dipercaya banyak orang. Namun kini, bukan prestasi yang disebut-sebut — melainkan penyesalan, kejatuhan, dan sebuah kisah yang menjadi pelajaran pahit.
Kasus yang menyeret namanya ke sorotan publik bukan hanya mencoreng reputasi pribadi, tapi juga mencederai kepercayaan masyarakat pada dunia kesehatan. Dan kini, ketika semuanya sudah terbuka, tersisa satu hal: penyesalan.
Terpeleset di Tengah Kepercayaan

Baca Juga : Babak Baru Kasus Sengketa Lahan yang Seret PTAM Intan Banjar
Informasi yang beredar menyebutkan bahwa Dr. Priguna terlibat dalam kasus malpraktik dan dugaan penyalahgunaan kewenangan medis. Beberapa pasien melaporkan perlakuan yang tak sesuai prosedur, mulai dari tindakan tanpa persetujuan hingga diagnosa yang tidak transparan.
Salah satu keluarga pasien bahkan menyebut:
“Kami percaya padanya, tapi ternyata kepercayaan itu disalahgunakan.”
Investigasi internal dilakukan, izin praktik dibekukan sementara, dan opini publik pun mulai bergeser dari hormat menjadi kecewa.
Dibalik Jas Putih: Manusia Biasa dengan Godaan Luar Biasa
Kisah Dr. Priguna juga membuka diskusi penting: dokter adalah manusia biasa. Mereka lelah, mereka bisa salah, dan kadang mereka pun tergoda oleh hal-hal di luar etika. Tapi ketika menyandang jas putih, tanggung jawabnya bukan biasa-biasa saja.
Dr. Priguna sempat mengaku, melalui pernyataan singkat, bahwa ia “khilaf dan terbawa tekanan”, namun permintaan maaf itu tak cukup bagi banyak pihak.
Kejatuhan yang Menggemparkan, Bukan Sekadar Hukuman
Kejatuhan nama Dr. Priguna tak hanya soal sanksi hukum atau pencabutan izin praktik. Lebih dari itu, ia menghadapi konsekuensi sosial yang berat: kehilangan kepercayaan, dijauhi rekan sejawat, dan menjadi contoh buruk dalam pelatihan kedokteran.
Media sosial ramai membicarakan, tak sedikit yang menyayangkan, tapi lebih banyak yang merasa dikhianati.
Sesal di Ujung Jalan: Ketika Karier Tak Bisa Diulang
Kini, Dr. Priguna lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, jauh dari ruang praktik yang dulu menjadi panggung utamanya. Ia menghindari media, menolak wawancara, dan hanya menitipkan satu pesan kepada rekan-rekannya di dunia medis:
“Jangan ulangi kesalahan saya. Sekali kehilangan kepercayaan, tak ada gelar yang bisa mengembalikannya.”
Penutup: Bukan Sekadar Nama yang Jatuh, Tapi Kepercayaan Publik yang Robek
Kasus Dr. Priguna menyisakan pelajaran besar: bahwa dalam dunia profesi, terutama yang berurusan dengan nyawa dan harapan, kesalahan tak hanya berdampak hukum — tapi juga berdampak moral dan sosial.






