Banjar – Mualem Tenang Lihat Bobby Pernyataan menarik datang dari Muzakir Manaf atau yang lebih dikenal dengan nama Mualem, tokoh penting di Aceh dan mantan Panglima GAM, terkait razia pelat kendaraan Aceh oleh pihak berwenang di Medan.
Ia menanggapi dengan santai langkah Wali Kota Medan, Bobby Nasution, yang mendukung razia terhadap kendaraan berpelat BL yang dianggap tidak taat pajak.
Saat ditanya wartawan soal sikapnya, Mualem berkata pendek tapi penuh makna: “Kalau gatal, kita garuk.”

Baca Juga : Audiensi dengan Wali Kota Banjar Karang Taruna Neglasari Sampaikan 3 Poin Tuntutan
Ucapan itu langsung menjadi sorotan dan banyak dimaknai sebagai sindiran halus namun tegas dari tokoh Aceh terhadap kebijakan yang dinilai provokatif tersebut.
Razia terhadap pelat kendaraan Aceh yang melintas di Sumatera Utara, khususnya Medan, ramai diberitakan dalam beberapa pekan terakhir.
Namun bagi sebagian warga Aceh, tindakan tersebut dianggap berlebihan dan bisa memicu ketegangan antarwilayah.
Mualem dalam pernyataannya tidak terpancing emosi dan memilih bersikap tenang dalam menanggapi dinamika tersebut.
Ia menyatakan bahwa Aceh adalah daerah istimewa yang memiliki keistimewaan dalam otonomi, termasuk dalam urusan kendaraan.
Menurutnya, banyak kendaraan pelat BL yang digunakan di Medan oleh mahasiswa, pekerja, atau masyarakat yang punya aktivitas lintas wilayah.
Karena itu, ia menyarankan agar aparat bertindak proporsional dan tidak memicu kegaduhan yang tidak perlu.
Mualem juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik antara Aceh dan Sumatera Utara yang selama ini terjalin dengan damai.
“Kita ini satu Sumatera, jangan diprovokasi oleh kebijakan yang tidak bijak,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa jika ada persoalan administratif, seharusnya bisa diselesaikan melalui komunikasi, bukan dengan razia sepihak.
Bagi Mualem, ketenangan adalah kekuatan, dan reaksi emosional bukanlah solusi dalam menghadapi kebijakan pemerintah daerah lain.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa masyarakat Aceh merasa terganggu dengan perlakuan yang dianggap diskriminatif.
Kalau orang Aceh punya kendaraan pelat Medan di Aceh, kita tidak pernah ribut,” tambahnya






