Banjar – Letda Fauzy seorang prajurit. Letnan Dua Infanteri Muhammad Fauzy adalah anak, sahabat, dan patriot yang memilih jalan sunyi: menjaga tapal batas negeri, jauh dari gemerlap kota, di medan yang tak semua orang sanggup tempuh—Kiwirok, Papua.
Namun kini, namanya dikenang dengan air mata dan hormat. Letda Fauzy gugur setelah ditembak kelompok separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM). Tapi sebelum peluru itu merenggut nyawanya, ada kisah yang layak untuk didengar. Bukan tentang perang, tapi tentang iman, cinta tanah air, dan tanggung jawab yang tak bisa ditinggalkan.
Hari-Hari Terakhir: Antara Rindu dan Tugas
Letda Fauzy sempat menulis pesan di grup keluarga. Ia bilang kondisi di posnya cukup tenang, meski tetap siaga. Ia minta doa agar tugasnya lancar, dan berjanji akan pulang secepatnya setelah rotasi pasukan.

Baca Juga : Pelajar SMP Purworejo Terseret Ombak Pantai Jatimalang Ditemukan Tewas
“Dia sempat video call sama ibunya. Bilang kangen masakan rumah. Tapi tetap tersenyum… katanya, ‘tunggu Fauzy pulang, ya.’”
Tak ada yang menyangka, itulah video call terakhir.
Serangan Mendadak di Hutan Kabut
Pada hari kejadian, bersama timnya tengah melakukan patroli rutin di sekitar Kiwirok, wilayah yang dikenal sebagai medan rawan dan sarang OPM. Mereka tak menduga akan terjadi serangan mendadak dari arah perbukitan.
Tembakan pertama memecah sunyi. Disusul rentetan peluru. Letda Fauzy terkena tembakan di bagian dada. Meski sempat dievakuasi, nyawanya tak tertolong.
Dia gugur di pangkuan rekan seperjuangan. Dalam pelukan senjata yang masih hangat.
Lebih dari Seragam dan Senjata
bukan nama besar di media. Tapi ia adalah salah satu dari ribuan prajurit muda yang bertugas jauh dari sorotan, memastikan bendera Merah Putih tetap berkibar di sudut-sudut terjauh Indonesia.
Temannya di Akademi Militer menyebutnya sebagai pribadi sederhana, religius, dan sangat mencintai Indonesia.
Kiwirok, tempat Letda Fauzy gugur, bukan wilayah biasa. Ini adalah garis depan konflik yang tak kunjung usai. Di sana, pasukan TNI bukan sekadar tentara—mereka juga menjadi guru darurat, tukang bangunan, dan harapan bagi warga yang memilih tetap tinggal.






