Banjar – Korban Tewas Longsor yang terjadi di Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, kembali memakan korban jiwa. Hingga laporan terbaru, jumlah korban tewas bertambah menjadi tiga orang, setelah tim pencarian dan penyelamatan menemukan satu korban tambahan yang sebelumnya dilaporkan hilang. Situasi ini membuat duka mendalam bagi warga setempat yang sejak awal sudah berjibaku menghadapi cuaca ekstrem dan kondisi alam yang tidak menentu.
Longsor tersebut terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan perbukitan Pandanarum selama beberapa hari berturut-turut. Struktur tanah yang labil dan curam mengakibatkan tebing ambrol, menghantam permukiman warga di bawahnya. Beberapa rumah rusak parah, sementara akses jalan sempat tertutup material longsor.
Korban Ketiga Ditemukan Setelah Pencarian Intensif
Proses pencarian korban dilakukan sejak hari pertama oleh tim gabungan BPBD, Basarnas, TNI-Polri, relawan, dan warga setempat. Cuaca buruk sempat menjadi kendala besar, membuat operasi SAR berjalan lambat. Namun berkat upaya intensif dan kerja sama di lapangan, tim akhirnya menemukan satu korban tambahan tertimbun material tanah.

Baca Juga : Viral Fotografer di Bogor Kirim Foto ‘Misi Paket’ ke WA, Ini Kata Walkot
Korban ketiga ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada kedalaman lebih dari satu meter, tepat di lokasi yang sebelumnya diduga sebagai titik ia terakhir terlihat. Identitas korban langsung dipastikan oleh keluarga yang sejak awal menunggu proses pencarian di pos darurat.
Hujan Deras Jadi Pemicu Utama Longsor
Wilayah Pandanarum merupakan daerah berbukit dengan kontur tanah yang rawan bergerak saat hujan lebat turun dalam durasi panjang. Beberapa titik, terutama yang dekat area tebing dan lereng curam, masuk dalam zona rawan longsor menurut pemetaan BPBD Banjarnegara.
Hujan deras yang terjadi sejak dua hari sebelum kejadian membuat kondisi tanah jenuh air dan kehilangan daya ikat. Tebing kemudian runtuh dan menyeret bebatuan, pohon, serta material lain hingga menimpa rumah warga.
Warga mengaku suara gemuruh terdengar beberapa detik sebelum longsor terjadi, membuat sebagian dari mereka sempat lari menyelamatkan diri.
Evakuasi dan Penanganan Darurat Masih Berlanjut
Meski seluruh korban sudah ditemukan, tim SAR masih berada di lokasi untuk memastikan tidak ada warga lain yang terjebak atau belum terdata. Selain itu, pembersihan jalur dan penanganan situasi darurat juga terus dilakukan.
Beberapa langkah tanggap darurat yang kini berjalan antara lain:
-
Pembersihan material longsor di badan jalan yang masih tertimbun
-
Penilaian cepat kerusakan rumah dan fasilitas umum
-
Evakuasi warga yang tinggal di zona rawan
-
Pembukaan posko pengungsian sementara
-
Distribusi bantuan logistik berupa makanan, selimut, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya
BPBD Banjarnegara mengimbau warga tetap waspada karena potensi longsor susulan masih tinggi apabila hujan kembali turun.
Warga Mengungsi, Trauma Masih Terlihat
Puluhan warga memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, termasuk di balai desa dan rumah kerabat yang berada di daerah lebih datar. Rasa trauma terlihat jelas, terutama di kalangan anak-anak dan keluarga yang rumahnya rusak berat.
Sebagian dari mereka mengaku takut kembali ke rumah karena kondisi tebing di belakang permukiman masih rentan longsor. Pemerintah desa bekerja sama dengan relawan mencoba memberikan pendampingan psikososial untuk membantu warga pulih dari beban mental akibat bencana.
Pemerintah Daerah Siapkan Upaya Jangka Panjang
Bupati Banjarnegara menyampaikan duka cita mendalam atas korban jiwa yang terus bertambah. Ia memastikan pemerintah daerah akan memberikan bantuan penuh kepada keluarga korban serta melakukan penanganan lanjutan untuk meminimalkan risiko bencana di masa depan.
Beberapa langkah yang direncanakan meliputi:
-
Relokasi warga yang tinggal di titik paling rawan
-
Pembangunan jalur drainase untuk mengurangi kejenuhan tanah
-
Pemasangan sistem peringatan dini di beberapa lokasi
-
Rehabilitasi tebing dan reboisasi untuk memperkuat struktur tanah
Penutup: Waspada Bencana di Musim Hujan
Musim hujan yang kini memasuki puncak membuat tingkat kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan. Kejadian di Pandanarum menjadi pengingat bahwa bencana dapat terjadi kapan saja, terutama di wilayah dengan kontur yang sensitif terhadap perubahan cuaca.
Pemerintah mengimbau warga untuk segera melapor jika melihat tanda-tanda pergerakan tanah, retakan, atau suara gemuruh dari arah tebing. Keselamatan menjadi prioritas utama, dan langkah pencegahan selalu lebih penting daripada penanganan setelah bencana terjadi.






