BANJAR. – Kopdes Kelurahan Merah Putih di Kota Banjar, Jawa Barat, membuka peluang besar untuk mengembangkan usaha. Koperasi ini bisa menjadi sub pangkalan penyaluran gas elpiji 3 kilogram sekaligus gerai distribusi beras SPHP (Stabilitas Pasokan Harga Pangan).
Peluang Kerja Sama dengan Pos Giro, Pertamina, dan Bulog
Kesempatan itu muncul saat sosialisasi pengembangan usaha Koperasi Desa Merah Putih bersama PT Pos Giro, Pertamina, dan Perum Bulog. Dalam kegiatan tersebut, sejumlah peluang kolaborasi ditawarkan, mulai dari sektor logistik hingga penyaluran beras SPHP.
baca juga: Mualem Tenang Lihat Bobby Razia Pelat Aceh Kalau Gatal Kita Garuk
Asisten Manager Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Sub Divre Ciamis, Lutfi Malau, menegaskan Kopdes Merah Putih memiliki privilege dari pemerintah. Menurutnya, koperasi bisa menyalurkan beras SPHP asalkan mengikuti aturan, yakni tidak menjual secara curah atau eceran serta melakukan pembelian minimal dua ton per minggu.
“Pangsa pasar terbuka lebar, dan Kopdes Merah Putih bisa memanfaatkan program ini,” jelas Lutfi saat acara di Aula Setda Kota Banjar, Senin (29/9/2025).
Modal untuk Sub Pangkalan LPG
Selain beras, Kopdes Merah Putih juga berpeluang menjadi sub pangkalan LPG 3 kilogram. Tim Supporting SBM Pertamina Patra Niaga Wilayah Tasikmalaya, Rafi Rahmad, menyampaikan bahwa LPG subsidi akan dipasok dari pangkalan terdekat.
Alokasi maksimal untuk sub pangkalan mencapai 300 tabung atau 10 persen dari jatah pangkalan utama yang biasanya menerima hingga 3.000 tabung. Untuk memulai usaha ini, koperasi membutuhkan modal Rp 5.150.000. Dana tersebut mencakup pembelian APAR, timbangan, dan 20 tabung LPG 3 kilogram sebagai sarana operasional awal.
“Modal usaha itu fokus untuk fasilitas sub pangkalan. Sedangkan alokasi LPG maksimal 10 persen dari jatah pangkalan,” jelas Rafi.
baca juga: Audiensi dengan Wali Kota Banjar Karang Taruna Neglasari Sampaikan 3 Poin Tuntutan
Tantangan Alokasi dan Persaingan Harga
Pengurus Koperasi Merah Putih Kelurahan Mekarsari, Dedi Kurniawan, menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Ia menilai penyaluran beras SPHP bisa memberi manfaat besar. Namun, untuk LPG subsidi, tantangan muncul karena harga jual dari pangkalan Rp 16.000 per tabung.
Menurut Dedi, sub pangkalan harus bersaing dengan warung-warung yang sudah lebih dulu menjual LPG 3 kilogram. Kondisi ini membuat koperasi harus menyesuaikan strategi agar tidak kalah di pasar.
“Minimal harga kita harus sama dengan pangkalan. Kalau disamakan dengan warung agak berat, apalagi masih ada biaya pengiriman dan operasional,” ungkap Dedi.
.
Harapan untuk Pendampingan dan Pelatihan
Dedi juga meminta pemerintah kota memberi dukungan teknis kepada koperasi. Ia menekankan pentingnya pelatihan dalam pengelolaan usaha dan pendampingan terkait akses pinjaman ke Bank Himbara.
“Selama ini kami belum mendapat bimbingan teknis maupun pelatihan. Ke depan, kami berharap ada pendampingan agar koperasi lebih profesional,” pungkasnya.






