Banjar – Keistimewaan Haul Guru Di tengah riuh kehidupan modern, ada satu tradisi yang tetap menyejukkan jiwa jutaan umat: Haul Abah Guru Sekumpul.
Fenomena langka ini langsung menjadi buah bibir umat Islam, khususnya warga Banua. Bukan hanya soal jumlah, tapi juga soal spirit keistimewaan yang menyelimuti haul ke-20 dari ulama besar asal Kalimantan Selatan itu.
Siapa Guru Sekumpul?

Baca Juga : Pemilik Unit Grand Tan Akui Pernah Terima Bagi Hasil Rp 1,7 Juta Per Tahun
Nama lengkap beliau adalah KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani al-Banjari, dikenal luas sebagai Abah Guru Sekumpul.
Haul beliau — atau peringatan wafatnya — bukan sekadar acara doa bersama.
Mengapa Dua Kali di 2025? Ini Penjelasannya
Fenomena ini hanya terjadi setiap beberapa dekade, tergantung pergeseran kalender hijriah terhadap masehi.
Apa yang Membuat Haul Ini Begitu Istimewa?
-
Jutaan Jamaah Hadir Tanpa Diundang
Tidak ada undangan resmi. Tidak ada promosi besar. Tapi setiap haul, jutaan orang datang dengan niat tulus, berjalan kaki, naik kendaraan, bahkan ada yang menabung setahun penuh hanya untuk hadir. -
Tradisi yang Penuh Cinta dan Adab
Jamaah rela antre, tidur di jalan, berbagi makanan, dan membantu sesama. Semua dilakukan dengan senyum, tanpa ribut. Inilah haul yang tidak hanya besar secara jumlah, tapi juga agung secara akhlak. -
Momentum Muhasabah dan Spirit Cinta Rasulullah
Isi ceramah dan doa dalam haul selalu berfokus pada kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, kebaikan sesama manusia, dan memperbaiki diri. Tidak ada muatan politik. Murni spiritual.
Dampak Ekonomi dan Sosial yang Luar Biasa
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin individualis, haul ini menghadirkan model kehidupan sosial yang penuh gotong royong dan keberkahan.
Penutup: Dua Kali Haul, Dua Kali Berkah
Tahun 2025 menjadi tahun langka. Bukan hanya karena Haul Guru Sekumpul digelar dua kali, tapi karena umat diberi dua kali kesempatan untuk berkumpul dalam cinta dan doa. Sebuah momen langka yang tak hanya terjadi di kalender, tapi juga di hati mereka yang rindu akan keteladanan ulama sejati.
.






