Banjar – Harga Pertamax Turbo PT Pertamina (Persero) resmi mengumumkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 September 2025.
Dalam pengumuman tersebut, harga Pertamax (RON 92) tetap berada di angka Rp12.200 per liter, tidak mengalami kenaikan maupun penurunan.
Sementara itu, dua jenis BBM lainnya yakni Pertamax Turbo (RON 98) dan Pertamina Dex (CN 53) mengalami penurunan harga.

Baca Juga : 29 Pelaku Pengrusakan Gedung DPRD Kota Banjar Diamankan Polisi, 7 Masih Pelajar SMP
Harga Pertamax Turbo turun dari sebelumnya Rp14.400 menjadi Rp13.950 per liter.
Adapun Pertamina Dex, BBM diesel dengan kualitas tertinggi, mengalami penurunan dari Rp14.550 menjadi Rp14.000 per liter.
Penyesuaian harga ini dilakukan dalam rangka menyesuaikan dengan rata-rata harga minyak dunia serta kurs dolar AS terhadap rupiah.
“Kami terus menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mengikuti tren harga minyak mentah dunia serta memperhatikan daya beli masyarakat,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Irto Ginting.
Irto menjelaskan bahwa harga BBM nonsubsidi, seperti Pertamax dan Pertamax Turbo, tidak mendapat subsidi dari pemerintah, sehingga harga bisa berubah secara berkala.
Penyesuaian ini dilakukan secara periodik sesuai regulasi Keputusan Menteri ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Keputusan tersebut menyatakan bahwa badan usaha berhak menyesuaikan harga BBM umum setiap awal bulan, sesuai tren pasar.
Dengan harga Pertamax yang tidak berubah, banyak masyarakat merasa sedikit lega di tengah kekhawatiran inflasi.
“Syukurlah nggak naik. Soalnya bensin udah jadi beban bulanan buat saya yang kerja pakai motor,” ujar Wahyu, seorang pengemudi ojek online di Jakarta.
Lumayan juga turun Rp400–Rp550. Kalau isi full tank bisa hemat puluhan ribu,” kata Ferry, pengguna mobil sport asal Bandung.
Menurut analis energi, Teguh Santosa, tren harga minyak global memang cenderung menurun dalam dua bulan terakhir.
“Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh US$81 per barel, turun dari puncaknya yang sempat di atas US$90 pada kuartal sebelumnya,” jelas Teguh.
Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga turut berkontribusi terhadap ruang penurunan harga BBM nonsubsidi.
Namun, pemerintah tetap mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menggunakan BBM dan mulai beralih ke energi yang lebih ramah lingkungan.
Menteri ESDM, Arifin Tasrif, menyebut bahwa transisi energi tidak hanya soal listrik, tapi juga soal pola konsumsi bahan bakar masyarakat.






